Melalui Teknologi Hijau Daihatsu Kita Selamatkan Dunia
Global Warming yang Melanda Dunia (Penyebab dan Akibatnya)
Selama ini kita telah mengenal dan sering mendengar istilah global warming atau pemanasan global. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan pemanasan global?
Pemanasan global atau global warming adalah merupakan suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Suhu rata-rata global bumi meningkat 0,74±0.18°C selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. . (http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global).
Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan pemanasan global antara lain konsumsi energi bahan bakar fosil, sampah, kerusakan hutan, serta pertanian dan peternakan. (http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1582–penyebab-pemanasan-global-pada-bumi.html)
Konsumsi energi bahan bakar fosil menyumbang emisi karbon. Emisi karbon inilah yang menyebabkan efek rumah kaca di bumi, dimana panas matahari terperangkap di dalam bumi dan membuatnya makin terasa panas. Sektor industry merupakan penyumbang emisi karbon terbesar, sedangkan transportasi menempati posisi kedua. Sementara itu konsumsi bahan bakar fosil di Negara kita telah memakan 70% dari total konsumsi energi, sedangkan listrik memakan 10% dari total konsumsi energi. Dari sektor ini Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,48%. (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2003).
Sampah juga merupakan salah satu penyebab pemanasan global. Sampah mengeluarkan gas metana (CH4), diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Gas metana ini juga merupakan salah satu unsur yang dapat menjadi perangkap panas sinar matahari.
Kerusakan hutan juga menjadi salah satu penyebab pemanasan global. Hutan yang berfungsi untuk mengubah gas CO2 (salah satu gas rumah kaca) menjadi O2 semakin berkurang. Akibatnya gas CO2 menumpuk dan mengakibatkan bumi bertambah panas.
Belum lagi pertanian dan peternakan yang ternyata juga menyumbang gas rumah kaca, seperti sawah-sawah yang tergenang yang menghasilkan gas metana, pemanfaatan pupuk serta praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan pembusukan sisa-sisa pertanian, serta pembusukan kotoran ternak.
Aktivitas-aktivitas manusia (kita) seperti di atas telah dijelaskan akan menghasilkan gas-gas rumah kaca. Gas ini berfungsi untuk menangkap panas dari matahari. Matahari memancarkan sinarnya ke bumi, kemudian oleh bumi sinar ini akan dipantulkan kembali dan sebagian terperangkap di dalam bumi. Terperangkapnya panas matahari ini dikarenakan oleh adanya gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana.
Sebetulnya gas-gas tersebut dibutuhkan oleh makhluk hidup yang ada di bumi. Karena tanpa gas-gas tersebut, bumi ini akan menjadi dingin, nah dengan adanya gas rumah kaca tersebut maka bumi menjadi hangat. Namun jika gas tersebut makin menumpuk seperti sekarang ini maka suhu bumi akan terus meningkat dan mengakibatkan pemanasan global.
Sudah tentu pemanasan global ini memberikan berbagai dampak, diantaranya kenaikan temperatur global dan pergeseran musim.
Kenaikan temperatur menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan sehingga terjadi pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut. Efeknya akan mengakibatkan penurunan produksi tambak serta terjadinya pemutihan terumbu karang dan punahnya berbagai jenis macam ikan. Selain itu naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil di Indonesia menjadi hilang. Selain itu pemuaian massa air laut ini juga akan memperburuk kualitas air tanah serta infrastruktur perkotaan yang mengalami kerusakan akibat terendam air laut.
Pergeseran musim menyebabkan pola hujan yang tidak teratur. Kadang musim hujan terlalu singkat dan kemarau yang panjang, sedangkan di tempat lain mengalami hujan terus menerus sehingga mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Yang jelas kedua peristiwa tersebut akan memberikan dapmak yang kurang menguntungkan di berbagai sektor seperti kehutanan, pertanian, perikanan dan kesehatan. (http://www.alpensteel.com/article/108-230-pemanasan-global/1582–penyebab-pemanasan-global-pada-bumi.html)
Teknologi Hijau
Dampak buruk pemansan global membuat manusia berfikir keras untuk menerapkan teknologi yang ramah lingkungan, yaitu tidak membebani bumi dengan berbagai polusi yang dapat merusak bumi itu sendiri.
Teknologi hijau menurut Soemarno, 2011 adalah teknik untuk menghasilkan energi dan atau produk yang tidak mencemari atau meracuni lingkungan hidup. Teknologi ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini. (Filosofi Teknologi Hijau, Soemarno 2011).
Tujuan dari penggunaan teknologi hijau ini antara lain (Filosofi teknologi Hijau, Soemarno 2011):
1. Mengurangi penggunaan energi dan sekaligus meningkatkan pembangunan ekonomi.
2. Memastikan pembangunan lestari dan memelihara sumber daya alam untuk generasi mendatang.
3. Meningkatkan pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap teknologi hijau dan menyebarluaskan aplikasi teknologi hijau.
4. Mengurangi emisi karbon ke udara yang menyebabkan fenomena perubahan iklim global.
Teknologi Hijau Daihatsu
Daihatsu sebagai produsen mobil terkemuka di Indonesia akan menerapkan teknologi hijau-nya di masa mendatang. Seperti apa teknologi tersebut?
‘Blue print’ teknologi hijau Daihatsu ini terdiri dari tiga tahap
Tahap pertama adalah teknologi ‘Eco-Idle’. Teknologi ini mampu mengatur hidup dan mati mesin, mesin akan mati secara otomatis jika kecepatan kurang dari 7 km/jam atau pada saat terjadi kemacetan. Selain itu sistem i-Ger menghasilkan pembakarna sempurna dan meminimunkan keluaran gas CO2 (salah satu gas rumah kaca).
Tahap kedua adalah Mesin 2-silinder turbocharger. Mesin ini memiliki komponen yang lebih sedikit,diharapkan dengan penggunaan teknologi ini kendaraan lebih ringan dan menggunakan sumber daya alam yang lebih sedikit. Selain itu tujuan penggunaan teknologi ini adalah untuk mencapai tingkat efisiensi bahan bakar lebih dari 30 persen dibandingkan dengan mesin-mesin Daihatsu saat ini.
Tahap ketiga adalah Precious Free Liquid Fuel Cell (PMfLFC). Pada tahap ini emisi gas buang CO2 adalah nol. Inilah wujud sebenarnya kendaraan ramah lingkungan. Material kendaraan menggunakan sumber daya alam yang lebih sedikit dan tidak mengandung logam mulia, sehingga biaya yang dikeluarkan cukup rendah.
Seperti apa mobil masa depan ini? Tentunya kita sangat berharap melalui mobil yang ramah lingkungan ini dunia bisa kita selamatkan. Setidaknya emisi karbon berkurang dan kitapun tetap nyaman berkendara.



Komentar
Posting Komentar